RSS Feed

Selasa, 02 Februari 2010

Penyakit Aktivis Da'wah : Uzlah atau Tafarrud

Makna:
Menurut Bahasa : Menjauh ke sebelah
Menurut Istilah : Mengutamakan hidup sendirian daripada hidup berjamaah (bersama orang banyak)

Dengan begitu, sang aktifis merasa cukup menegakkan Islam hanya untuk dirinya sendiri dan tidak menghiraukan keadaan sekitar, meskipun mereka tersia-sia atau binasa. Atau dia menegakkan Islam dalam dirinya sendiri dan juga orang lain, namun usahanya itu tidak ia lakukan bersama-sama dengan jamaah (pejuang) yang lain melainkan ia lakukan sendiri.

Sebab-Sebab ’Uzlah atau Tafarrud:

1. Berhenti pada sebagian nash syar’iyyah yang menganjurkan uzlah dengan melupakan posisinya terhadap nash-nash lain yang memerintahkan hidup berjamaah.
2. Berhenti pada lahiriah ’uzlah sebagian ulama salaf dengan melupakan kondisi dan situasi yang melatarbelakanginya.
3. Mengira bahwa kehidupan berjam’ah menghilangkan eksistensi orang yang menisbatkan diri dalam jama’ah dan mengabaikan hak-hak pribadinya, dengan melupakan manhaj Islam dalam memadukan antara pribadi dan jama’ah.
4. Lupa terhadap tabiat tugas-tugasnya dalam bergaul dengan jama’ah dan hidup di tengah orang banyak.
5. Beralasan bahwa bergaul dengan manusia dapat mengganggu konsentrasi beribadah, dengan melupakan pengertian ibadah yang sebenarnya.
6. Beralasan karena kejelekan dan kerusakan telah merajalela, dengan melupakan tugas seorang muslim ketika sedang terjadi kerusakan dan keburukan.
7. Karena menyaksikan ujian dan cobaan yang dialami orang-orang yang melakukan kegiatan untuk din Allah, dengan melupakan posisi para aktifis itu terhadap ujian dan cobaan tersebut.
8. Bersahabat dengan sebagian kaum muslimin yang suka menyendiri.
9. Banyaknya organisasi keislaman.
10. Lupa terhadap akibat yang ditimbulkan oleh uzlah baik bagi aktifis maupun bagi amal Islami.

Akibat / Bahaya ’Uzlah atau Tafarrud:

Akibat ’Uzlah bagi Aktifis:

1. Tidak mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.
2. Menghalangi mereka untuk mendapatkan seorang penolong yang dapat mengendalikan tangannya dan membantunya untuk memperbaiki aibnya dan kekurangan-kekurangannya.
3. Menyia-nyiakan sebagian kemampuan dan potensi mereka yang menyebabkan mereka menjadi sasaran penyesatan dan bisikan syetan, lebih-lebih yang berkenaan dengan kepribadiannya.
4. Kurang pengalaman dan pelatihan dalam menghadapi kesukaran dan rintangan-rintangan di tengah perjalanan.
5. Menimbulkan rasa putus asa (pesimis) yang dapat mengakibatkan penyakit futrur.
6. Sempitnya lapangan untuk memperoleh pahala dan ganjaran dari Allah.
7. Kehilangan kemampuan untuk menegakkan din Allah pada dirinya pada hari ini dan hari-hari berikutnya.
8. Mencampakkan diri ke dalam dosa dan kebencian Ilahi, karena memisahkan diri dari masyarakat dan meninggalkan jama’ah.

Akibat ’Uzlah bagi Amal Islami:

1. Dilecehkan, dianggap enteng, dikesampingkan, tercecer, dan tersendat-sendat hingga hanya dapat dipetik hasilnya setelah mencurahkan tenaga yang banyak sekali dan memakan waktu yang lama.
2. Terhalang dari pertolongan dan bantuan Ilahi.

Jalan Untuk Menyelamatkan Diri Dari ’Uzlah:

1. Memiliki pemahaman yang sempurna mengenai hubungan antara nash-nash syar’iyyah yang menyuruh ’uzlah dan nash-nash yang menyuruh bergaul dengan manusia dan melazimi jama’ah.
2. Memiliki pemahaman yang sempurna tentang kondisi dan situasi yang melatarbelakangi sebagian ulama salaf melakukan ’uzlah atau tafarrud.
3. Mengerti secara mendalam akan manhaj Islam dalam mengkompromikan antara kehidupan fardiyyah (individual) atau jamaah (kolektif).
4. Memahami pengertian ibadah secara tepat.
5. Menundukkan nafsu dan mengendalikannya dengan ketat.
6. Memahami tugas dan kewajiban muslim ketika keburukan dan kerusakan merajalela.
7. Memohon perlindungan dan pertolongan dengan sungguh-sungguh kepada Allah swt.
8. Tidak bersahabat dengan orang yang menempuh hidup ’uzlah, tidak menghiraukan masyarakat atau tidak mau bergotong royong dengan masyarakat.
9. Memiliki pengetahuan yang sempurna tentang hakikat kelompok-kelompok dan organisasi-organisasi yang bergerak dalam menegakkan dan mengembangkan din Allah.
10. Mengikuti manhaj yang ditempuh Rasulullah saw membangun benteng dan daulat Islam pada masa awal kehadirannya.
11. Mengerti bahwa musuh-musuh Allah saling tolong menolong untuk memukul Islam.
12. Merenungkan kehidupan makhluk yang ada di sekitar kita.
13. Memperhatikan dampak negatif ’uzlah atau tafarrud sebagaimana yang telah disebutkan dimuka.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Al Qur'an ditinjau dari Ilmu Pengetahuan

Al Qur’an adalah kitab suci penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Jika Nabi Isa as mukjizatnya adalah lahir tanpa ayah, Nabi Musa as mukjizatnya adalah mengalahkan ahli sihir Fir’aun dengan tongkatnya,maka Al Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diterima oleh Nabi Muhammad saw dari Allah swt. Selain itu, Al Qur’an juga memiliki 4 aspek yaitu:

1. Al Bayan (Penjelasan)

Tak ada penjelasan di dunia ini yang pemaparannya begitu terperinci kecuali selalu dipertanyakan oleh orang-orang yang kurang jelas. Tapi penjelasan Al Qur’an sangat sempurna dan detail. Tak ada satu masalahpun dalam kehidupan ini yang tak dijelaskan dalam Al Qur’an, sebab Al Qur’an adalah penyempurna kitab-kitab sebelumnya.

2. Syari’ah

Peraturan dalamAl Qur’an itu berlaku sepanjang zaman. Tidak ada yang ketinggalan zaman dalam Al Qur’an.

3. Da’wah

Al Qur’an merupakan kitab da’wah. Banyak orang-orang yang masuk Islam dengan sentuhan Al Qur’an contohnya Umar bin Khattab.

4. Tarbiyah

Al Qur’an berhasil mencetak generasi umat terbaik sepanjang zaman antara lain Utsman bin Affan dan para sahabat lainnya.

Kita patut bangga karena kita terpilih menjadi generasi Al Qur’an. Dan sepatutnyalah tingkah laku dan perbuatan kita sesuai dengan Al Qur’an.

Terkait dengan ilmu pengetahuan, di dalam Al Qur’an pun juga mencakup segala macam tentang ilmu pengetahuan. Di bawah ini ada beberapa penggalan ayat Al Qur’an yang terkait masalah ilmu pengetahuan:

1. QS. Ar-Ra’d: 3

“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”

Hubungan gunung-gunung dan sungai-sungai dalam Al Qur’an. Gunung bukan hanya hiasan Allah, tapi dia dapat membendung angin yang akan menjadi awan, yang di dalamnya terdapat gumpalan-gumpalan air yang akan turun dan membentuk aliran-aliran sungai. Dari aliran-aliran sungai itu, dapat menyuburkan tanaman dan buah-buahan. Dan Allah tutup siang itu dengan malam. Tahukah kalian sahabat? Buah-buahan itu sama dengan manusia. Dengan adanya malam, maka buah-buahan itu bisa tumbuh dan berkembang karena dia juga membutuhkan istirahat seperti manusia.

2. QS. An Nahl: 68-69

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah,’Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhan-Mu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang memikirkan.”

Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada lebah untuk membuat sarang-sarangnya di bukit, pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia (madu buatan manusia). Memang, kualitas madu itu terbagi menjadi tiga. Yang pertama adalah madu yang dihasilkan dari gunung-gunung, kemudian madu yang dihasilkan dari pohon-pohon, dan yang ketiga adalah madu buatan manusia. Dari madu pun terdapat banyak manfaatnya kalau kita pergunakan yaitu obat yang menyembuhkan bagi manusia.

3. QS. ArRahman: 19-20

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak di lampaui oleh masing-masing.”

Maksud ayat diatas adalah air sungai tidak akan menjadi asin dan air laut tidak akan menjadi tawar karena diantaranya ada barzah (pemisah). Itulah kekuasaan Allah swt.

4. QS. An Nur: 43

“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”

Kalau kita perhatikan dari atas bumi menghadap keatas melihat awan, kita akan melihat awan itu hanya satu lapis. Tapi kalau dari pesawat, kita akan melihat awan itu bertumpuk-tumpuk.

5. QS. Al An’am: 165

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Orang yang diberi hidayah Allah maka dadanya dibuat lapang. Tapi orang yang diberi kesempitan oleh Allah maka dadanya dibuat sesak.

Oke, sekian dulu pembahasan kita kali ini. Sampai bertemu di lain kesempatan. Semoga bermanfaat… :-)

Salam Pelangi…:-)